Home » Sejarah » Sejarah dan situs Nabi Luth menentang LGBT.

Sejarah dan situs Nabi Luth menentang LGBT.

December 4, 2017 1:03 pm by: Category: Sejarah Leave a comment A+ / A-

Nabi Luth (1950-1870 SM) adalah nabi yang 7 menurut versi Islam. Nabi Luth adalah keponakan Nabi Ibrahim. 

Ia beriman kepada bapak saudaranya yakni Nabi Ibrahim mendampinginya dalam semua perjalanan dan sewaktu mereka berada di Mesir,mereka  berusaha bersama dalam bidang peternakan yang berhasil dengan baik, lalu binatang ternaknya berkembang biak sehingga dalam waktu yang singkat jumlah hewan ternaknya sudah berlipat ganda sehingga tidak tertampung dalam tempat yang sudah disediakan.

Akhirnya Allah memerintahkan ibrahm berpisah : “Maka Luth membenarkan (kenabian) nya. Dan berkata Ibrahim: “Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku; sesungguhnya Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al-Ankabuut : 26).

Binatang ternak serta harta milik perusahaan mereka di bagi dan berpisahlah.  Luth lalu pindah ke Yordania dan bermukim di sebuah tempat bernama Sodom. Perpindahan Nabi Luth ke Kota Sodom bukan tanpa maksud. Allah SWT sengaja mengutusnya ke sana untuk berdakwah.

Kondisi kota Sodom.

Sodom adalah kota yang makmur, namun masyarakat Kota Sodom telah terkenal dengan moral yang sangat busuk. Mereka tidak mempunyai pegangan agama atau penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Maksiat ,pencurian, perampasan harta merupakan kejadian sehari-hari, yang kuat menjadi penguasa, dan yang lemah menjadi korban penindasan.

Perbuatan maksiat yang paling menonjol dalam masyarakat Sodom adalah prilaku seksualitasnya yang tidak normal (LGBT), kejadian ini belum pernah ada sebelumnya. Para pria di kota ini lebih suka berhubungan dengan sesama jenis melalui anal seks, sedangkan wanitanya terlibat lesbian dan berhubungan seks seperti binatang.

Jika musafir datang akan dirampok, jika mereka berani melawan, maka nyawanya tidak akan selamat, setelah hartanya dirampas, musafir itu akan mengalami pelecehan seksual dari penduduk kota.  Musafir laki-laki yang bermuka tampan dan berparas elok, akan menjadi rebutan di antara kalangan laki-laki dari masyarakat Kota Sodom. Sebaliknya, jika musafir itu perempuan muda, dia akan menjadi mangsa bagi penduduk wanitanya.

Kejadian ini direkam di dalam Al Quran, hal ini juga dijelaskan di dalam agama nasrani dan Yahudi.

Dakwah Nabi Luth.

Setibanya di kota itu, dengan kelembutan dan kasih sayang, Nabi Luth langsung berdakwah kepada kaumnya. Beliau mengajak mereka untuk hanya menyembah kepada Allah SWT yang tiada sekutu bagi-Nya. Dan melarang mereka untuk melakukan kejahatan dan kekejian.

Diceritakan dalam Al Qur’an : “Kaum Luth telah mendustakan rasul-rasul. Ketika saudara mereka Luth, berkata kepada mereka: Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.” (QS. asy-Syu’ara: 160-163). “Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam” (QS. asy-Syu’ara: 164)..

Dengan penuh ketulusan Luth juga mengingatkan agar mereka tidak melakukan perilaku sex menyimpang :  “Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika ia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu sedang kamu melihat(nya). Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu(mu), bukan mendatangi wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak dapat mengetahui (akibat perbuatanmu).” (QS. an-Naml: 54-55)

Namun beliau berhadapan dengan hati yang keras dan jiwa yang sakit serta penolakan yang berasal dari kesombongan. Dakwah Nabi Luth hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri.

Nabi Luth diusir.

Nabi Luth tetap melakukan dakwah walaupun mereka mengancam : “Hai Lut, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti, benar-benar kamu termasuk orang-orang yang diusir”(QS. asy-Syu’ara: 167).  Hingga akhirnya suatu saat penduduk kota bereaksi dan meminta Nabi Luth menghentikan aksi dakwahnya. “Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: ‘Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (mendakwahkan dirinya) bersih.'” (QS. an-Naml: 56)

Tindakan kaum Nabi Luth membuat hati beliau bersedih. Mereka melakukan kejahatan secara terang-terangan di tempat-tempat mereka. Nabi Luth memerangi mereka dalam jihad yang besar. Nabi Luth mengemukakan argumentasi. Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun berlalu, dan Nabi Luth terus berdakwah. Namun tak seorang pun yang mengikutinya dan tiada yang beriman kepadanya kecuali keluarganya, bahkan keluarganya pun tidak beriman semuanya. Istri Nabi Luth kafir seperti istri Nabi Nuh:

Kaum Nabi Luth menantag Azab Allah.

Nabi Luth mulai lelah, jika rumah adalah tempat istirahat yang di dalamnya seseorang mendapatkan ketenangan, maka Nabi Luth tersiksa, baik di luar rumah maupun di dalamnya. Kehidupan Nabi Luth dipenuhi dengan mata rantai penderitaan yang keras namun beliau tetap sabar atas kaumnya.

Berlalulah tahun demi tahun tetapi tak seorang pun yang beriman kepadanya, bahkan mereka mulai mengejek ajarannya dan mengatakan apa saja yang ingin mereka katakan: “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-arang yang benar.” (QS. al-‘Ankabut: 29)

Akhirnya Nabi Luth sangat amat kecewa, beliau putus asa dengan sikap kaum Sodom, Nabi Luth berdoa kepada Allah agar masyarakat Sodom diberikan pelajaran berupa azab di dunia, sebelum azab yang menanti mereka di akhirat kelak : Luth berdoa : “Ya Tuhanku tolonglah aku dengan menimpakan azab atas kaum yang berbuat kerusakan itu” (QS. 29 : 30). Permohonan Nabi Luth pun akhirnya dikabulkan oleh Allah.

Allah mengirimkan 3 malaikat

Dikirimkanlah kepadanya tiga orang malaikat yang menyamar sebagai manusia biasa. Para malaikat keluar dari tempat Nabi Ibrahim menuju desa Nabi Luth. Pada waktu Ashar, mereka mencapai pagar-pagar Sodom, ditepi sungai mengalir di tengah-tengah tanah yang penuh dengan tanaman yang hijau.

Sementara itu, anak perempuan Nabi Luth berdiri sedang mengisi tempat air di sungai itu. Ia mengangkat wajahnya sehingga dapat melihat mereka. Ia tampak keheranan melihat kaum pria yang memiliki ketampanan yang mengagumkan. Salah seorang malaikat bertanya kepada anak kecil itu: “Wahai anak perempuan, apakah ada rumah di sini?”. Ia berkata “Hendaklah kalian tetap di situ sehingga aku memberitahu ayahku dan kemudian akan kembali pada kalian.” Ia meninggalkan wadah airnya di sisi sungai dan segera menuju ayahnya.

“Ayahku, ada pemuda-pemuda yang ingin menemuimu di pintu kota. Aku belum pernah melihat wajah-wajah seperti mereka,” kata anak itu dengan nada gugup. Beliau segera berlari menuju tamu-tamunya. Ketika Nabi Luth melihat mereka, beliau merasakan keheranan yang luar biasa dan didalam hati berkata: “Ini adalah hari yang dahsyat.”

Nabi Luth bertanya kepada mereka: “Dari mana kalian datang dan apa tujuan kalian ?” Mereka malah terdiam dan justru memintanya untuk menjamu mereka.” Nabi Luth tampak malu di hadapan mereka, kemudian beliau berjalan di depan mereka sedikit lalu beliau berhenti sambil menoleh kepada mereka dan berkata: “Saya belum mengetahui kaum yang lebih keji di muka bumi ini selain penduduk negeri ini”. Beliau mengatakan demikian dengan maksud agar mereka mengurungkan niat mereka untuk bermalam di negerinya. Namun mereka tidak peduli dengan ucapan Nabi Luth.  

Nabi Luth terus berusaha dan mengisyaratkan kepada mereka untuk melanjutkan perjalanannya tanpa harus mampir di negerinya. Namun tamu-tamu itu sangat mengherankan. Mereka tetap berjalan dalam keadaan diam. Ketika Nabi Luth melihat tekad mereka untuk tetap bermalam di kota, beliau meminta kepada mereka untuk tinggal di suatu kebun sehingga datang waktu Maghrib dan kegelapan menyelimuti segala penjuru kota. Nabi Luth sangat bersedih dan dadanya menjadi sempit. Karena rasa takutnya dan penderitaanya sehingga ia lupa untuk memberi mereka makanan.

Kegelapan mulai menyelimuti kota. Nabi Luth menemani tiga tamunya itu berjalan menuju rumahnya. Tak seorang pun dari penduduk kota yang melihat mereka. Namun istrinya melihat mereka sehingga ia keluar menuju kaumnya dan memberitahu mereka kejadian yang dilihatnya. Kemudian tersebarlah berita dengan begitu cepat dan selanjutnya kaum Nabi Luth menemuinya. Allah SWT berfirman: “Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: ‘Ini adalah hari yang amat sulit.’ Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergesa-gesa. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji.” (QS. Hud: 77-78)

Mulailah terjadi hari yang sangat keras. Kaum Nabi Luth bergegas menuju Nabi Luth berdiri di depan pintu rumah. Nabi Luth keluar kepada mereka dengan penuh harap, bagaimana seandainya mereka diajak berpikir secara sehat? Bagaimana seandainya mereka diajak menggunakan fitrah yang sehat? Bagaimana seandainya mereka tergugah dengan kecenderungan yang sehat terhadap jenis lain yang Allah SWT ciptakan untuk mereka? Bukankah di dalam rumah mereka terdapat kaum wanita? Seharusnya wanitalah yang menjadi kecenderungan mereka, bukan malah mereka cenderung kepada sesama pria.

“Dia berkata: ‘Hai kaumku, inilah putri-putri (negeriku) mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal.” (QS. Hud: 78).

Kaumnya menunggu hingga beliau selesai bemberi nasihat yang singkat, lalu mereka tertawa terbahak-bahak. Kalimat Nabi Luth yang suci itu tidak mampu mengubah pendirian jiwa yang sakit, hati yang beku, dan pikiran yang bodoh, “Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.'” (QS. Hud: 79)

Nabi Luth merasakan kesedihan dan kelemahannya di tengah-tengah kaumnya. Dengan marah Nabi Luth memasuki rumahnya dan menutup pintu rumahnya. “Luth berkata: ‘Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).'” (QS. Hud: 80)

“Para utusan (malaikat) berkata: ‘Hai Luth sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-sekali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu.” (QS. Hud: 81). Jangan berkeluh kesah wahai Luth dan jangan takut. Kami adalah para malaikat, dan kaum itu tidak akan mampu menyentuhmu. Tiba-tiba pintu terbelah. Jibril bangkit dan ia menunjuk dengan tangannya secara cepat  : “Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal.” (QS. al-Qamar: 37-38).

Nabi Luth diperintahkan untuk pergi.

Ketika orang orang sesaat itu dalam keadaan buta dan berbenturan dengan satu sama lain. Para tamu atau malaikat itu berseru dan meminta agar Nabi Luth as meninggalkan perkampungan itu bersama keluarga yang ia sayangin. Nabi Luth as dan keluarganya diberi pesan oleh malaikat dalam perjalan keluar dari Sadum tidak menengok ke belakang.

Nabi Luth bertanya kepada malaikat: “Apakah sekarang akan turun azab kepada mereka?” Para malaikat memberitahunya bahwa mereka akan terkena azab pada waktu Subuh. “Pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang pun di antara kalian yang tertinggal, kecuali istrimu Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka adalah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?” (QS. Hud: 81)

Nabi Luth keluar bersama anak-anak perempuannya dan istrinya. Mereka keluar di waktu malam. Dan tibalah waktu Subuh. Kemudian datanglah perintah Allah SWT: “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang lalim. ” (QS. Hud: 82-83).

Saat terjadi kehancuran, langit menghujani mereka dengan batu-batu dari neraka Jahim. Yaitu batu-batu yang keras dan kuat yang datang silih berganti. Neraka Jahim terus menghujani mereka sehingga kaum Nabi Luth musnah semuanya. Tiada seorang pun di sana. Semua kota-kota hancur dan ditelan bumi sehingga terpancarlah air dari bumi. Hancurlah kaum Nabi Luth dan hilanglah kota-kota mereka. Nabi Luth mendengar suara-suara yang mengerikan

Istri  nabi Luth tidak selamat.

Sehabis tengah malam Nabi Luth as beserta keluarganya yaitu seorang istri, dan dua orang putri berjalan cepat keluar kota, tidak menoleh ke kanan atau ke kiri sesuati pesan para malaikat. Namun karena istrinya masih masih berpihak pada masyarakat sadum yang sesat tidak tega meninggalkannya. Ia berada di belakang rombongan Nabi Luth as berjalan secara perlahan lahan tidak secepat langkah suaminya itu, dan tak henti hentinya menoleh ke belakang  untuk mengetahui apa yang akan ditimpa oleh masyarakat sadum itu, serta seolah-olah ragu akan kebenaran ancaman para malaikat yang telah ia dengar dengan telinganya sendiri. . Istrinya melihat sumber suara dan dia pun musnah.”

“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): ‘Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk neraka.'” (QS. at-Tahrim: 10). 

Malaikat berkata  : “Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia, dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)” (QS. 29 : 32)

Tamatlah riwayat kaum Nabi Luth dari bumi. Akhirnya, Nabi Luth menemui Nabi Ibrahim. Beliau menceritakan berita tentang kaumnya. Beliau heran ketika mendengar bahwa Nabi Ibrahim juga mengetahuinya. Nabi Luth terus melanjutkan misi dakwahnya di jalan Allah SWT seperti Nabi Ibrahim. Mereka berdua tetap menyebarkan Islam di muka bumi.

Bukti sejarah.

Kota Sodom terletak di tepi laut mati yang airnya sangat asin sehingga menjadi pengawet sisa hutan yang ada didalamnya. Para ahli menliti bekas-bekas kota Sodom dan mendapati sisa sisa kejayaan kita tersebut.  “Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak dijalan yang masih tetap (dilalui manusia).” (QS. al-Hijr: 76). 

Ditemukan bahwa kota tersebut cukup besar namun sudah hancur ada bekas terbakar dan tertimbun batu. Diduga kota terbakar oleh hujan batu belerang dan gempa bumi hebat. “Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada siksa yangpedih. ” (QS. adz-Dzariyat: 35-37)

“Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Mekah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi, dan diwaktu malam, Maka apakah kamu tidak memikirkannya.” (QS. ash-Shaffat: 137-138). Yakni ia adalah bukti kekuasaan Allah SWT yang zahir. Para ulama berkata: “Bahwa kota-kota yang tujuh menjadi danau yang aneh di mana airnya asin dan deras airnya lebih besar dari derasnya air laut yang asin. Dan di dalam danau ini terdapat batu-batu tambang yang mencair. Ini mengisyaratkan bahwa batu-batu yang ditimpakan pada kaum Nabi Luth menyerupai butiran-butiran api yang menyala. Ada yang mengatakan bahwa danau yang sekarang bernama al-Bahrul Mayit yang terletak di Palestina adalah kota-kota kaum Nabi Luth.”

 

Download PDF
Sejarah dan situs Nabi Luth menentang LGBT. Reviewed by on . Nabi Luth (1950-1870 SM) adalah nabi yang 7 menurut versi Islam. Nabi Luth adalah keponakan Nabi Ibrahim.  Ia beriman kepada bapak saudaranya yakni Nabi Ibrahim Nabi Luth (1950-1870 SM) adalah nabi yang 7 menurut versi Islam. Nabi Luth adalah keponakan Nabi Ibrahim.  Ia beriman kepada bapak saudaranya yakni Nabi Ibrahim Rating: 0

Leave a Comment


6 − = one

scroll to top
Translate »
Facebook